Dari Tanah Belukar dan Undian Berhadiah: Kisah Perjuangan Umat Katolik Awal di Surakarta
Sejarah Gereja biasanya ditulis dari atas: nama uskup, tanggal peresmian, prasasti marmer. Tapi kalau Anda telusuri sejarah Katolik di Surakarta, yang muncul justru sesuatu yang lain — cerita tentang orang-orang yang tidak punya cukup uang, tidak punya cukup fasilitas, dan tetap terus berjalan.
Ini kisah dua tempat dan dua kekurangan.
Bagian Satu: Umat yang Berjalan Terlalu Jauh
1812. Nama pertama yang tercatat sebagai orang Surakarta yang dibaptis adalah Anna Catharina Weynschenk, pada 14 November 1812. Sepuluh hari kemudian, pada 24 November, Georgius Weynschenk menyusul.
Perhatikan tanggalnya. Ini seabad lebih sebelum ada gedung gereja Katolik di kota ini. Artinya, selama lebih dari seratus tahun, ada umat Katolik di Surakarta yang hidup, dibaptis, menikah, dan mati tanpa pernah punya gereja sendiri.
Sebelum 1859. Umat Katolik Surakarta dilayani langsung dari Semarang. Pelayanan datang sesekali, dari jauh.
1859. Dibentuk Stasi Ambarawa, yang wilayah pelayanannya mencakup Salatiga, Ambarawa, Surakarta, dan Madiun. Di atas kertas ini kemajuan — ada pusat pelayanan yang lebih dekat dari Semarang. Dalam praktik, ini tetap berarti satu hal bagi umat Solo: untuk ikut Misa, kamu harus pergi.
Awal 1900-an. Jumlah umat Katolik di Surakarta mulai bertambah. Catatan menyebut angka umat mencapai ribuan pada masa pelayanan Romo Yohanes F. v. d. Haegen — dengan sebagian besar di antaranya adalah tentara, gambaran khas komunitas Katolik kolonial waktu itu.
Tapi umat yang bertambah tanpa tempat ibadah tetap adalah masalah, bukan kabar baik. Setiap kali ingin mengikuti Misa, umat harus bepergian ke Ambarawa yang jaraknya cukup jauh dari Solo. Sarana transportasi masa itu sangat terbatas. Perjalanan semacam itu bukan hal yang bisa dilakukan mingguan oleh orang biasa dengan pekerjaan biasa.
Inilah yang mengusik Pastor Cornelis Stiphout SJ.
Masalahnya Bukan Iman, Tapi Uang
Yang menarik dari cerita ini adalah di mana letak hambatannya. Bukan kurangnya iman umat, bukan larangan penguasa, bukan penolakan masyarakat. Hambatannya sangat membumi: biayanya tidak ada.
Membangun rumah ibadah di awal 1900-an membutuhkan dana besar. Jumlah umat masih sedikit, dan pemasukan gereja terbatas. Secara matematis, gereja di Solo tidak mungkin dibangun dari kantong umat setempat.
Di titik ini, banyak rencana baik mati. Pastor Stiphout memilih jalan lain.
Undian Berhadiah, 29 Oktober 1905
Pada 29 Oktober 1905, Pastor Cornelis Stiphout SJ dari Pastoran Ambarawa mendapat izin mengadakan undian untuk mendirikan gereja di Kota Solo.
Berhenti sebentar di kalimat itu. Seorang imam Yesuit, untuk membangun gereja, menggelar undian berhadiah.
Pilihan ini terdengar tidak lazim bagi telinga hari ini, tapi logikanya kuat: ia memakai instrumen yang sudah dikenal dan diminati masyarakat kolonial, lalu mengarahkan hasilnya ke kebutuhan umat yang tidak mampu membiayai dirinya sendiri. Ini bukan kemewahan teologis; ini pemecahan masalah oleh orang yang kehabisan pilihan.
Dan usaha itu berhasil. Dana yang terkumpul cukup untuk memulai pembangunan.
Surat ke Belanda dan Sebuah Wasiat
Stiphout tidak berhenti di situ. Ia juga berkirim surat ke Negeri Belanda, melayangkan usulan untuk mendapat bantuan pembangunan gereja. Usulan itu dikabulkan.
Di sinilah cerita mengambil giliran yang tak terduga. Biaya pembangunan sebagian besar akhirnya ditanggung oleh seorang dermawan kaya di Belanda. Menjelang kematiannya, orang itu menuliskan dalam surat wasiatnya bahwa seluruh warisannya boleh dipakai oleh para misionaris Yesuit di Hindia-Belanda — dengan satu syarat: nama Antonius harus dicantumkan pada nama gereja yang dibangun.
Kita tidak tahu banyak tentang orang ini. Kita tidak tahu apakah ia pernah mendengar nama Surakarta. Tapi setiap kali orang Solo hari ini menyebut “Gereja Purbayan”, mereka sebenarnya juga menyebut permintaan terakhir seseorang yang mati di benua lain.
Ada sesuatu yang sangat Katolik dalam hal itu — cara Gereja menghubungkan orang-orang yang tidak akan pernah bertemu.
Misa Pertama Digelar di Pastoran, Bukan di Gereja
22 Desember 1907. Perayaan Ekaristi pertama di Surakarta diadakan di pastoran. Alasannya sederhana dan agak pahit: gedung gerejanya belum selesai dibangun.
Ini salah satu detail paling indah dalam seluruh sejarah ini. Misa pertama umat Katolik Solo tidak digelar di bawah kubah tinggi dengan lonceng berbunyi. Ia digelar dalam kondisi darurat, di sebuah rumah pastoran, tiga hari sebelum Natal.
Tidak ada yang menunggu sampai semuanya sempurna. Mereka berkumpul dengan apa yang ada.
Sebelas Tahun, Lalu Akhirnya
November 1916. Setelah proses panjang, pada 14 November 1916 — bertepatan dengan pesta Santo Yosef Pignatelli — Gereja Santo Antonius dari Padua Purbayan diberkati.
Sebelas tahun dari izin undian sampai gereja diberkati. Sembilan tahun dari Misa pertama di pastoran.
Ini bagian yang paling mudah dilewati pembaca modern, dan paling perlu direnungkan. Sebelas tahun bukan waktu yang singkat. Ada orang yang ikut menyumbang untuk gereja itu dan tidak hidup cukup lama untuk melihatnya berdiri. Ada anak-anak yang lahir setelah undian digelar dan baru masuk sekolah ketika gerejanya diberkati.
1918. Romo Cornelis Stiphout SJ diangkat sebagai Pastor Paroki pertama di Surakarta, dengan surat pengangkatan tahun itu.
Pada awalnya gereja ini masih berstatus stasi dari Gereja Gedangan Semarang — cabang, bukan pusat. Dari cabang itulah kehidupan Katolik di Solo kemudian bertumbuh.
Gereja yang Terlalu Kecil: Masalah yang Menyenangkan
Yang terjadi berikutnya adalah jenis masalah yang layak disyukuri: gerejanya jadi terlalu kecil.
Karena begitu banyak kegiatan yang dilakukan, umat semakin bertambah banyak sampai Gereja Purbayan tidak mampu lagi memuat seluruh umat. Maka disusun rencana membangun gereja baru.
Dan lihat bagaimana dananya dikumpulkan kali ini. Bukan lagi undian dan surat ke Belanda. Umat Paroki Purbayan mengadakan kolekte khusus setiap Minggu untuk sumbangan pembangunan, ditambah berbagai kegiatan pengumpulan dana.
Dalam satu generasi, komunitas ini berubah dari umat yang harus dibiayai orang lain menjadi umat yang membiayai gerejanya sendiri. Itu barangkali indikator kedewasaan yang lebih jujur daripada bangunan apa pun.
Dari Belanda tetap datang bantuan — tapi kali ini berupa perlengkapan: lonceng, kaki lilin, kelinting, alat-alat perlengkapan Misa, dan tabernakel. Romo Henricus Koch SJ mendatangkan patung-patung serta dua lonceng yang diberi nama Santa Maria dan Santo Ignatius.
16 September 1938. Peletakan batu pertama gereja baru dilakukan, diberkati oleh Romo Verhaar SJ didampingi Romo Th. Poesposoeparto SJ.
Perhatikan dua nama itu berdiri berdampingan: satu Belanda, satu Jawa. Sebuah potret transisi yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang.
Bukan Hanya Membangun Gereja, Tapi Sekolah
Ada satu hal yang sering terlewat dari cerita ini: Paroki Purbayan tidak hanya membangun tempat ibadah. Ia masuk ke dunia pendidikan cukup awal, dengan membuka sejumlah sekolah — di antaranya HIS Sosronegaran, SD Kanisius Jayengan, SDK Pucangsawit, SDK Purwaprajan, SD Semanggi, SDK Sorogenen, dan SDK Bromantakan.
Ini menjelaskan mengapa jejak Katolik di Solo lebih besar dari jumlah umatnya. Pengaruh sebuah komunitas tidak diukur dari ukuran gerejanya, tapi dari apa yang ia bangun untuk orang lain — termasuk untuk orang yang tidak seiman dengannya.
1949: Seorang Muda Datang untuk Dibaptis
Pada 1949, di gereja inilah Brigadir Jenderal Slamet Riyadi dibaptis, dengan nama baptis Ignatius.
Empat puluh empat tahun setelah Pastor Stiphout menjual undian, gereja yang lahir dari usaha itu menjadi tempat seorang pahlawan nasional menerima nama barunya. Namanya kini melintang sebagai jalan utama Kota Solo.
Pastor Stiphout tentu tidak pernah membayangkan itu ketika mengurus izin undian pada Oktober 1905.
Bagian Dua: Tanah Belukar dengan Salib Besi
Setengah abad kemudian, cerita yang mirip terulang di pinggir utara kota — dengan kemiskinan sumber daya yang sama, dan kesabaran yang sama.
Di Mojosongo, Jebres, ada sebidang tanah lapang penuh belukar. Tanahnya miring. Di tengahnya, seseorang menancapkan sebuah salib besi.
Tidak ada bangunan. Tidak ada atap. Tidak ada program.
Di tanah itulah umat dan muda-mudi Katolik setempat berkumpul untuk doa rosario setiap malam Jumat. Di tanah miring, di antara belukar, di bawah langit terbuka.
Ini bagian dari sejarah Katolik Solo yang paling tidak megah dan paling penting. Karena di sini terlihat jelas bahwa tempat kudus tidak dibuat oleh anggaran. Ia dibuat oleh pengulangan — oleh orang-orang yang datang lagi, dan lagi, dan lagi, ke tempat yang sama.
Sekitar 1975. Dibangun sebuah rumah sederhana untuk tempat beristirahat dan bernaung bila hujan.
Perhatikan urutannya: doanya sudah berjalan bertahun-tahun, lalu baru dibangun tempat berteduh. Bukan sebaliknya.
1980. Romo Matius Pusposudarmo Pr menggagas agar lahan itu dijadikan tempat ziarah. Dengan bantuan para penderma, gagasan itu terwujud.
25 Desember 1983. Pada hari Natal, Gua Maria Mojosongo diberkati dan resmi dijadikan tempat ziarah umat Katolik oleh Uskup Semarang, Mgr. Julius Darmaatmadja.
Dari salib besi di tanah belukar sampai tempat ziarah yang diberkati seorang uskup — prosesnya memakan waktu bertahun-tahun, melewati beberapa generasi muda-mudi paroki yang barangkali sudah punya cucu ketika tempat itu akhirnya diresmikan.
Apa yang Bisa Dipelajari
Kalau Anda letakkan dua cerita ini berdampingan — Purbayan dan Mojosongo — muncul pola yang sama.
Keduanya dimulai dari kekurangan, bukan kelimpahan. Satu tidak punya uang; satu tidak punya bangunan. Tidak ada yang dimulai dari posisi kuat.
Keduanya butuh waktu yang tidak masuk akal. Sebelas tahun untuk Purbayan. Hampir satu dekade dari rumah teduh sederhana sampai peresmian di Mojosongo — dan bertahun-tahun doa rosario sebelum itu.
Keduanya bertumpu pada orang biasa. Umat yang mengumpulkan kolekte setiap Minggu. Muda-mudi yang datang berdoa setiap malam Jumat di tanah miring. Nama-nama mereka tidak tercatat.
Keduanya masih dipakai hari ini. Ini yang terpenting. Purbayan masih menjadi tempat orang mampir berdoa sebelum kerja. Mojosongo masih menerima peziarah, buka 24 jam, tanpa tiket masuk.
Sejarah keduanya belum selesai — dan bagian yang belum ditulis itu sedang dikerjakan oleh orang-orang yang hari ini duduk diam di sana, tanpa merasa sedang membuat sejarah apa pun.
Itulah, mungkin, cara sejarah Gereja biasanya benar-benar terjadi.





