Blog Details

Kenapa Orang Katolik Berziarah? Makna Ziarah dan Mengapa Solo Jadi Tujuan Istimewa

“Kalau Tuhan ada di mana-mana, kenapa harus pergi ke tempat tertentu untuk berdoa?”

Itu pertanyaan yang jujur, dan pantas dijawab dengan jujur. Secara teologis, pertanyaan itu benar: Tuhan tidak lebih hadir di Gua Maria daripada di kamar tidur Anda. Tidak ada tempat yang memberi Tuhan sinyal lebih kuat.

Tapi ziarah tidak pernah tentang memindahkan Tuhan. Ziarah tentang memindahkan kita.

Ziarah sebagai Bahasa Tubuh

Manusia tidak hanya berpikir; manusia bergerak. Kita memahami sesuatu lewat tubuh kita, bukan hanya lewat kepala. Itu sebabnya kita berdiri saat menghormati, berlutut saat memohon, memeluk saat bersyukur.

Ziarah adalah versi panjang dari itu. Ia adalah doa yang dilakukan dengan kaki.

Ketika Anda memutuskan bangun pagi, menempuh jarak, meninggalkan rutinitas, dan pergi ke suatu tempat khusus untuk berdoa, ada sesuatu yang terjadi bahkan sebelum Anda tiba. Anda sudah menyatakan sesuatu: hal ini cukup penting sampai saya rela repot untuk itu.

Iman yang tidak pernah merepotkan kita punya kecenderungan mengecil sendiri. Ziarah adalah cara sederhana untuk melawan itu.

Akar dalam Tradisi

Gagasan perjalanan menuju Tuhan bukan hal baru dalam tradisi Kristen — ia diwarisi dari akar Yahudi. Umat Israel naik ke Yerusalem untuk perayaan-perayaan besar. Mazmur-mazmur pendakian dinyanyikan di jalan. Keluarga Yesus sendiri, menurut Injil, melakukan perjalanan ke Yerusalem.

Dalam perkembangan Gereja, ziarah tumbuh ke berbagai arah: ke Tanah Suci, ke makam para rasul, ke tempat-tempat penampakan dan mukjizat, ke tempat para kudus hidup dan mati. Ada Roma, ada Santiago de Compostela, ada Lourdes, ada Fatima.

Lalu ada juga hal-hal yang jauh lebih kecil dan lokal — gua kecil di belakang kampung, sendang di lereng bukit, gereja tua di samping balai kota. Gereja tidak pernah menganggap ziarah harus internasional untuk menjadi sungguh-sungguh.

Yang Sebenarnya Terjadi dalam Ziarah

Ada empat hal yang cenderung terjadi ketika orang berziarah dengan sungguh-sungguh.

Pertama, ia melepas kendali. Di rumah, Anda mengatur segalanya. Dalam perjalanan, Anda tidak. Jalanan macet, hujan turun, tempatnya lebih ramai dari perkiraan. Ketidaknyamanan ini bukan gangguan terhadap ziarah — sebagian besarnya adalah ziarah itu sendiri. Ia melatih Anda menerima hal-hal yang tidak Anda pilih.

Kedua, ia memberi ruang untuk keheningan. Ini barang yang semakin mahal. Hidup modern nyaris tidak menyisakan menit tanpa suara atau layar. Tempat ziarah, terutama yang hening dan rindang, memberi Anda sesuatu yang aneh: waktu di mana tidak ada yang menuntut Anda menjawab apa pun.

Ketiga, ia menempatkan Anda di tengah orang lain. Ziarah adalah pengalaman yang aneh secara sosial: Anda berdoa di tengah orang-orang yang tidak Anda kenal, dengan beban yang Anda tidak tahu apa. Tapi ada penghiburan tersendiri di situ. Anda sadar Anda bukan satu-satunya yang membawa sesuatu yang berat.

Keempat, ia memberi bentuk pada harapan. Banyak orang datang ke tempat ziarah dengan intensi yang sangat konkret: kesembuhan orang tua, pekerjaan, anak yang jauh, pernikahan yang sedang goyah. Menyebut intensi itu dengan suara pelan di depan patung Bunda Maria, di tempat yang sengaja disediakan untuk itu, membuat harapan yang selama ini berputar di kepala akhirnya punya tempat untuk diletakkan.

Mengapa Bunda Maria?

Ini bagian yang sering disalahpahami, termasuk oleh sebagian umat Katolik sendiri. Devosi Marian bukan menyembah Maria. Gereja sangat jelas soal ini.

Semboyan yang terpasang di Gua Maria Mojosongo Solo justru menjelaskannya dengan sangat ringkas: Per Mariam Ad Jesum — “menuju Yesus lewat Bunda Maria”. Maria bukan tujuan akhir; ia jalan. Dan di tengah bangunan yang sama tertulis Iesus Hominum Salvator — “Yesus Sang Juru Selamat”. Kedua tulisan itu berdiri bersama, dan urutannya bukan kebetulan.

Gereja Katolik mendedikasikan bulan-bulan tertentu untuk devosi tertentu. Untuk Bunda Maria, ada dua bulan khusus dalam setahun: Mei dan Oktober. Di dua bulan inilah situs-situs Gua Maria di Indonesia paling ramai, dan doa rosario bersama paling sering digelar.

Mengapa devosi ini begitu kuat di Jawa? Salah satu penjelasannya sederhana: figur ibu punya resonansi yang sangat dalam dalam budaya Jawa. Sikap hormat pada ibu, keyakinan bahwa doa seorang ibu punya daya, kelembutan sebagai bentuk kekuatan — semuanya menemukan titik temu dalam devosi kepada Bunda Maria. Iman Katolik di Jawa tidak menempel di permukaan; ia menemukan akar.

Mengapa Solo?

Solo bukan Lourdes. Tidak ada penampakan besar, tidak ada mukjizat yang mendunia. Jadi mengapa Solo punya tempat dalam peta ziarah?

Karena sejarahnya sangat manusiawi. Gereja Katolik pertama di Solo, Santo Antonius Purbayan, berdiri karena seorang imam Yesuit — Pastor Cornelis Stiphout SJ — tidak tahan melihat umatnya harus menempuh perjalanan ke Ambarawa hanya untuk ikut Misa. Karena tidak punya uang, ia menggelar undian berhadiah, dan menulis surat ke Belanda. Prosesnya berlangsung bertahun-tahun: izin undian 29 Oktober 1905, Misa pertama di pastoran 22 Desember 1907, gereja akhirnya diberkati 14 November 1916.

Tidak ada mukjizat di cerita itu. Yang ada hanya kesabaran, akal, dan kerja panjang. Dan justru karena itu ia terasa dekat.

Karena situs ziarahnya lahir dari bawah, bukan dari atas. Gua Maria Mojosongo tidak dirancang oleh arsitek besar dengan anggaran besar. Awalnya tempat itu hanya tanah lapang penuh belukar dengan sebuah salib besi ditancapkan di tengahnya. Di tanah miring itu, umat dan muda-mudi Katolik setempat berkumpul untuk doa rosario setiap malam Jumat.

Sekitar 1975, dibangun rumah sederhana agar ada tempat berteduh kalau hujan. Baru pada 1980, Romo Matius Pusposudarmo Pr menggagas agar lahan itu dijadikan tempat ziarah. Dengan bantuan para penderma, gagasan itu terwujud — dan pada 25 Desember 1983, Gua Maria Mojosongo diberkati serta resmi menjadi tempat ziarah oleh Uskup Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja.

Perhatikan urutannya. Doanya lebih dulu, bangunannya belakangan. Orang-orang sudah berdoa di tanah belukar itu bertahun-tahun sebelum ada yang menyebutnya “tempat ziarah”. Tempat itu menjadi kudus bukan karena diresmikan, tapi karena dipakai.

Karena Solo mempertemukan dua lapis warisan. Kota ini adalah bekas pusat Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunagaran, dengan warisan budaya Jawa yang masih hidup. Di kota yang sama, ada gereja kolonial berusia lebih dari seabad dan gua Maria di tengah permukiman padat. Berziarah di Solo berarti berziarah di tempat di mana iman Katolik tidak pernah berdiri sendirian — ia selalu bertetangga dengan keraton, pasar, dan kampung.

Karena skalanya pas. Dan ini alasan yang jarang disebut tapi nyata: situs ziarah di Solo bisa dijangkau tanpa perjalanan melelahkan. Gua Maria Mojosongo hanya sekitar 3 km dari pusat kota, sekitar 15 menit dari Keraton Surakarta, tanpa tiket masuk, dan buka 24 jam. Ziarah di Solo tidak menuntut heroisme. Ia hanya menuntut kesediaan.

Ziarah yang Gagal

Ada satu hal yang perlu dikatakan terus terang: ziarah bisa gagal.

Ziarah gagal ketika ia berubah jadi daftar centang — berapa gereja dikunjungi, berapa foto diunggah. Ziarah gagal ketika Anda menuntut hasil, memperlakukan doa seperti transaksi. Ziarah gagal ketika Anda pulang dengan kepala penuh konten tapi hati yang sama sekali tidak tersentuh.

Ziarah berhasil, biasanya, dalam bentuk yang jauh lebih kecil dari yang kita bayangkan. Anda pulang dan agak lebih sabar pada orang di rumah. Anda pulang dan berhenti mengeluh soal satu hal yang selama ini Anda keluhkan. Anda pulang dan ingat untuk menelepon seseorang.

Tidak ada yang spektakuler. Tapi itu memang bukan tujuannya.

Bagaimana Kalau Anda Bukan Katolik?

Situs-situs ini juga dikunjungi wisatawan dari luar komunitas Katolik, dan itu sama sekali tidak masalah. Gua Maria Mojosongo, misalnya, dikenal sebagai destinasi wisata religi sekaligus tempat ibadah aktif.

Aturannya sederhana: ini tempat orang berdoa. Berpakaian pantas, bicara pelan, jangan memotret orang yang sedang berdoa, dan kalau Anda tidak ingin berdoa, cukup duduk diam.

Banyak orang yang datang tanpa niat rohani pulang dengan mengatakan hal yang sama: tempat itu tenang, dan mereka tidak sadar seberapa butuh ketenangan sampai mereka mendapatkannya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

wpChatIcon
wpChatIcon